Minggu, 14 Oktober 2012

menjelajahi kehidupan sufi sebagai penyadaran diri

ASAL MULA KEHIDUPAN SUFI


Secara tinjauan literal semantik,istilah sufisme di siyalir berasal dari bahasa arab ash-shofa yang berarti bening atau jernih sebagai simbol langkah mistikus yang menempuh jalan penyucian  rohani.Rasulullah saw,bersabda:      
ذهب صفوالدنيا وبقي الكدرفالموت اليوم تحفة لكل مسلم
“kejernihan dunia telah sirna dan tinggalah kekeruhannya,maka hari ini,kematian adalah penghargaan bagi setiap muslim”(HR-Daruquthni).
Atau berasal dari ash-shufa yang di nisbatkan pada ahli shuffah(serambi),yaitu sekitar 400 shahabat Muhajirin yang fakir dan tidak memiliki tempat tinggal dan sanak keluarga di masa Nabi yang menetap dan beribadah di masjid Nabi,Madinah{syams Ad-din al qurthubi,At-Tafsir al- qurthubi,hal.168}.atau berasal dari ash-shoff(barisan),yang seolah hati mereka berada di barisan terdepan dalam kehadiran di hadapan ALLAH. Namun pendekatan isytiqoqy(derivasi)ash-shufiy{sufi}pada ke-3  kata tersebut,menurut Al-qusyairy di nilai tidak tepat secara tiori analogi harfiah.sebab dari ash-shofa sangat jauh bentuk fa’ilnya menjadi ash-ashufi jika ash-ashuffah menjadi ash-shafwi dan jika ash-shaff menjadi ash-shufi,dan juga tidak berasal dari ash-shauf(wol),sebab pakain tersebut tidak menjadi performance asli kaum sufi,jadi menurut al-qusyairy,sebutan shufi di berikan hanya sebagai gelar.adapun menurut Ibnu khaldun,meskipun ash-shauf bukan pakain khusus para mistikus,namun karena keidentikan tradisi mereka yang mengunakan pakaian wol,sebagai ekspresi kezuhudannya.
Adapun sufi menurut terminologisa,sebagaimana yang di katakan Muhammad Al-jurairy bahwa tasawuf adalah masuknya sikap/akhlak yang mulia dan keluarnya akhlak tercela.,kalau menurut al-junaid:tasawuf adalah perang(‘inwah),dan para sufi adalah anggota yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.Shal bin Abdullah al- tustary mengatakan:sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya halal tumpah dengan gratis,begitu juga Asy-syibly yang mengatakan bahwa:sufi adalah anak-anak yang berada di pangkuan Al-haq.Abu ya’kub al-mazabily mengatakan:tasawuf adalah keadaan di mana seluruh atribut kemanusiaan di hapus.namun menurut Ibn al-jalla’ ketika di tanya tentang tasawuf,beliau menjawab:kita tidak bisa mengenal mereka melalui ilmiah,namun kita tahu bahwa seseorang yang miskin ,tidak memiliki sarana duniawidan hanya bersama ALLAH tanpa terikat pada suatu tempat maka di namakan sufi.[ibn ujaibah,iqadh al-himam syarh matn al-hikam,hal 1].demikian adalah pengertian sufi dan tasawuf berdasarkan pengetahuan,pengalaman,kondisi rohani(hal).tetapi definisi tersebut tidak menjelaskan tasawuf yang sebenarnya,melainkan hanya sekedar petuntuk,karena tasawuf tidak bisa di fahami dengan persepsi dan filosofi apapun,melainkan hanya kearifan hati yang sanggup memahami dimensinya karena membutuhkan pengalaman yang tidak tergantung pada metode indra ataupun pemikiran.tapi pada dasarnya adalah sebuah manhaj nurani yang di bangun diatas kebijakan-kebijakan yang hanya bisa di lewati bukan melalui teori-teori semata melainkan ilmu dan amal dengan melepaskan(takholly)baju kenistaan dan mengenakan(tahalli)jubah keagungan,sehingga ALLAH(tajalli) dalam setiap gerak gerik dan perilakunya.dan inilah manisfestasi konkret dari ihsan dalam sabda Rasulullah saw:
الئحسان ان تعبد الله كئنك تراه فائن لم تكن تراه فائنه يراك
“ihsan adalah engkau menyembah ALLAH seolah engkau melihatnya dan jika engkau tidak melihatnya sesungguh ALLAH melihat mu”
Pada masa awal islam,sufisme tidak di pandang sebagai dimensi batin(esoteris)dari ajaran islam seperti yang berlangsung pada masa belakangan,melainkan ia di pandang sebagai islam itu sendiri.bahkan,dalam rangka merehkan kebangkitan aspirasi manusia pasca fase pertama perkembangan islam kalangan sufi mengatakan:”pada awalnya sufisme merupakan sebuah lealitas tanpa nama,sedang sekarang ini,sebuah nama tanpa lealitas”.
Jika ditilik dari sejarahnya,kelahiran tasawuf menjadi sisi esoteris ajaran islam secara independen,karena peradaban manusia nyaris menjadi materalistik dan gersang dari keshalehan spiritual,lahirnya tasawuf yang mengisi ’zona kosong’ yang di campakan oleh kalangan fuqoha da mutakallimin guna menyelamatkan mereka yang tengelam dalam kemegahan duniawi.kelahiran tasawuf yang menjadi penyelamat peradaban materalistik,tentu kelahirannya memberikan perhatian serius yang berorentasi pada persoalan bathin tanpa melupakan adab-adab formal syara’.sebab tidak ada tasawuf tanpa fiqih,karena hukum-hukum dhohir tidak bisa di mengerti tanpa fiqih,dan tidak ada fiqih tanpa tasawuf,sebab amaliah hanya berarti bila dengan kebenaran tawajjuh,serta fiqih dan tasawuf tidak akan ada tanpa iman,sebab keduanya di bangun di atas keimanan.{ibn ujaibah,hal 2}.sebagaimana yang di katakan Imam Malik:
من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق و من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق و من جمع بينها فقد تحقق
“barang siapa yang menjalani bertasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindiq,barabg siapa menjalani fiqih tanpa tasawuf maka dia telah fasiq,dan barang siapa yang menyatukan keduanya maka dia akan menemukan kebenaran”.
Maka jelas,bahwa kelahiran tasawuf adalah mengembalikan dimensi bathin yang sempat hilang dari keagamaan masyarakat islam.

Sumber : Dimensi tasawuf
By : suwandi wong jatim
                          


Tidak ada komentar:

Posting Komentar